Memberi adalah perbuatan terpuji. Demikian sejak kecil orangtua, guru, dan ajaran agama menanamkannya. Ajakan untuk saling memberi satu sama lain barangkali lekat dalam ingatan. Bahkan memberi dari kekurangan kita menjadi satu anjuran yang dianggap bernilai. Kita pun sebagai manusia sosial dan beriman sadar ataupun tak sadar berusaha menerapkan prinsip 'memberi dari kekurangan'. Memberi sebagian dari milik kita untuk sesama tidak akan mengurangi kepemilikan kita, bahkan akan ditambahkan pada kita. Begitu orang beriman memercayainya. Alih-alih kehabisan, memberi justru menuai banyak manfaat. Mulai dari manfaat psikis, sosial, sampai spiritual. Ada banyak macam memberi, seperti memberi ilmu, memberi sedekah, memberi nasihat, memberi kesempatan, memberi cinta dan kasih sayang. Sebagian kita berusaha untuk dapat memberi, bahkan dari kekurangan kita.
Memberi menjadi satu sikap yang perlu dimiliki oleh setiap insan. Namun, terkadang kita terlalu fokus pada perintah atau ajaran untuk saling memberi. Kita lupa ada ajaran lain yang seolah-olah bertentangan, yaitu kesediaan untuk menerima. Sejak kecil tertanam dalam pikiran kita untuk sedia memberi, tidak hanya menerima. Namun kadang kita lupa bahwa kemampuan menerima pun perlu diasah sebagaimana kita mengasah kemampuan untuk memberi. Apabila kita berusaha memberi bahkan dari kekurangan, pernahkah ada usaha untuk mampu menerima walaupun atas kekurangan diri kita maupun sesama?
Iya atau tidak? Pertanyaan yang tidak mudah untuk dijawab. Dengan mudah kita menguasahakan ajaran untuk memberi dari kekurangan, tetapi tidak mudah bersedia menerima atas kekurangan. Benarkah? Pernahkah kita mengeluh atas apa yang tidak kita miliki? Pernahkah kita malu atas kondisi diri kita? Pernahkah kita protes atas keadaan keluarga termasuk ayah, ibu, dan saudara? Pernahkah kita menjauhi teman karna satu hal; buruk rupakah, malaskah, miskinkah, pendiamkah? Pernahkah kita protes atas sifat pasangan kita? Kalo jawabannya adalah pernah, perlu kita kembali bertanya "masihkah?". Apabila iya, barangkali memang lebih mudah memberi dari kekurangan daripada menerima atas kekurangan.
Memberi memang terpuji, tetapi menerima juga seharusnya menjadi sikap yang perlu dimiliki. Alangkah indahnya apabila kita dapat memupuk kedua sikap itu, tidak hanya salah satunya.
Mari kawan kita buka pintu mata, pintu hati dan pintu pikiran. Walaupun ajaran untuk memberi lebih 'getol' ditanamkan, tetapi kita tidak boleh melupakan ajaran untuk menerima. Dengan demikian kita senantiasa memelihara sikap untuk memberi dari kekurangan dan menerima atas kekurangan.
Friday, March 4, 2016
Memberi dari Kekurangan dan Menerima atas Kekurangan
Thursday, March 3, 2016
Bahaya Prasangka
Pernah mendengar kata prasangka? Atau mungkin pernah berprasangka? Atau bahkan mengalami prasangka orang lain?
Prasangka dekat pula dengan istilah dugaan. Satu kata yang tentu tidak asing di telinga. Beberapa istilah dan kalimat pun terangkai bersama kata prasangka. "Prasangka baik." "Jangan berprasangka buruk!" "Ah itu cuma prasangkamu saja." Dan masih ada yang dapat menyebutkan kalimat lain?
Namun bukan itu poin pokok yang menggelitik untuk diperbincangkan. Bukan kata, maupun pemakaiannya dalam kalimat. Melainkan aktivitas kita, sebagai bagian dari lingkungan dalam berprasangka tentang orang lain dalam lingkunan kita. Prasangka yang terucap tentu tak lepas dari efek. seringkali kita berprasangka tentang orang lain. Kita sangka pria yang berbrewok tebal itu ringan tangan. Kita sangka tingkah wanita manja itu tidak normal. Kita sangka rekan kerja yang banyak bicara itu licik. Kita sangka orangtua kita egois karna telah melarang perbuatan kita. Kita banyak berprasangka. Barangkali dalam satu hati saja brp kali kita berprasangka.
Celakanya prasangka bukanlah fakta. Celakanya prasangka tak dilanjutkan dengan verifikasi dan konfirmasi ke pihak yang bersangkutan. Celakanya prasangka memengaruhi perlakuan dan reaksi kita terhadap orang lain. Lebih celaka lagi kalo prasangka dianggap benar, kemudian dengan penuh percaya diri berusaha menyebarkan prasangka ke sekitar. Barangkali itu hanyalah bentuk permintan diri untuk mendapatkan penguatan atau pemantalan atas asumsi pribadi. Bangga rasanya ketika prasangka yang merupakan asumsi pribadi mendapat persetujuan dari banyak orang. Semakin yakin prasangka tak lain adalah fakta. opini publik pun terbentuk atas dasar prasangka. Keputusan diri pun terbentuk. Celakanya kalau prasangka itu tentang keburukan orang lain, kemudian menimbulkan reaksi yang tidak diinginkan. Reaksi menjauhi, membenci, menghujat, menghakimi, tidak percaya lagi, hingga reaksi untuk meniadakan. Luar biasa sekali potensi reaksi yang tercipta dari sebuah prasangka.
Bagaimana jika itu terjadi di lingkungan kerja? Akibat prasangka dari seseorang, karir orang lain dapat terancam. Prasangka dari seseorang dapat melemahkan bahkan mematikan karir yang bersangkutan. Berawal dari prasangka yang dikoar-koarkan kemudian membentuk opini publik atas diri seseorang, dapat berakibat fatal. Pernahkah mengalaminya?
Fenomena berprasangka sering ada di kehidupan kita. Dalam lingkungan kerja, lingkungan sekolah, bertetangga, bahkan keluarga. Menyadari fatal efek dari sebuah prasangka, bijak kiranya kita mengolah prasangka. Prasangka buruk atas diri orang lain dapat menjadi senjata tajam yang mematikan. Hati-hati dalam berpikir, bertutur, dan berperilaku. Barangkali apa yang kita pikirkan, tuturkan, dan lakukan hanyalah prasangka yang belum terbukti kebenarannya. Berprasangka itu berbahaya, jadi berhati-hatilah terhadapnya. :)
Sunday, August 30, 2015
Rindu Alam Liar
Sunday, May 10, 2015
Dunia Industri, Dunia Baru
Love your job! try to always leave your office on time!