Sunday, September 11, 2016

Setia pada Perkara Kecil

Barangkali masalah yang ada pada diri kita itu hanya sesederhana ketidaksetiaan kita pada perkara kecil.
Kekhawatiran sering kita anggap satu sikap manusiawi. Kekhawatiran masih sering mendapat toleransi. Padahal di balik kekhawatiran ada ketidakpercayaan pada Sang Empunya. Karna ketika kita percaya sepenuhnya, niscaya kekhawatiran kan sirna.
Seorang anak paruh baya mencoba untuk menelaah kalimat tersebut. Dia adalah anak yang tumbuh dalam rasa ketakutan dan rasa kekhawatiran akan segala sesuatu. Ketika balita dia mengalami ketakutan luar biasa setiap kali melakukan kesalahan. Sifat keras sang ayah menjadi satu sebab ketakutannya. Bagaimna tidak. Setiap kali dia melakukan kesalahan atau apapun yang tak berkenan, amarah terlontar dari mulut ayahnya. Kalimat-kalimat kasar dengan nada keras menjadi memori yang tak terlupakan olehnya. Dia tidak tahu apa itu belajar. Dia hanya tahu tentang berbuat benar dan salah. Ketakutan akan melakukan perbuatan salah terpelihara hingga paruh baya. Bahkan dalam kehidupan sosialnya di sekolah maupun teman sepermainan, si anak ini senantiasa memendam rasa takut setiap kali mau mencoba hal baru. Takut salah, demikian katanya. Tak hanya rasa ketakutan yang senantiasa menghantui, namun juga rasa khawatir. Khawatir akan masa depan, khawatir akan perubahan-perubahan yang akan terjadi. Dia tidak mampu merasakan dengan penuh arti kenikmatan hari ini. Dia tak mampu merasakan kepuasan mendalam atas setiap pencapaiannya. Selama bertumbuh menjadi usia dewasa, dia hidup dalam rasa takut dan khawatir. Walaupum doa senantiasa di panjatkan, tak membuatnya kehilangan rasa cemas dan khawatir akan sesuatu hal. Dari luar orang melihat hidupnya begitu mulus dengan pencapaian yang dia alami. Pencapaian atas prestasi akademik maupun tingkah laku baiknya dalam pergaulan. Namun dalam diri anak ini tak mampu merasakannya. Dia terus hidup dalam ketakutan dan kekhawatiran. Sampai sekarang dan masih berlanjut, entah sampai kapan.

Ilustrasi di atas barangkali terjadi dalam diri kita yang sedang membaca. Atau setidaknya barangkali masih banyak anak-anak di luar sana yang masih berkutat dalam perkara kecilnya, mengalahkan kekhawatiran berlebih. Kekhawatiran yang berlebihan menyebabkan terhambatnya kreativitas. Berkutat dengan kekhawatiran dan seringkali melewatkan kesempatan emas ubtuk lebih berkembang. Melawan kekhawatiran butuh belajar, terlebih bagi mereka yang pernah mengalami kepahitan dengan masa lalunya. Anak-anak yang terdidik untuk mengkhawatirkan kehidupannya memiliki tantangan lebih besar untuk menaklukan diri. Segala sesuatunya adalah tentang proses. Selama kita mencoba dan berusaha, niscaya semua kan indah pada waktuNya. Mari kita lawan kekhawatiran. Percaya padaNya bahwa Dia memeluk kekhawatiran kita dan memberikan janji setiaNya.

Saturday, May 7, 2016

Kemana pun...

Kemana pun arus membawa, baiknya berlabuh disana.
Entah itu ladang tandus, gersang, maupun di padang rumput hijau atau pun ladang emas.
Kemana pun angin membawa, biarlah hinggap disana.
Tanpa harap, tanpa ragu penuhbkeyakinan dan niatan bahwa Angin dan Arus akan membawa ke tempat yang tepat.
Dimana pun nanti, setia bertekun melayani, menyalurkan talenta, dan mengembangkannya.
Dimana pun nanti, berusaha berdiribtegak penuhbpercaya diri.
Semesta mendukung, dimana pun nanti bisa melampaui, berbagi seraya memulihkan energi.
Hingga saatnya tiba nanti , jiwa raga cukup kuat untuk terbang sesuai nurani, melawan arus deras dan angin kencang, pasti kan mampu lakoni.
Tetapi untuk saat ini, arus terlalu kuat untuk dilawan.
Anginnya terlampau kencang untuk diterjang.
Belum cukup kuat raga melawan dan menerjang.
Hanya mampu berjalan kemana atus dan angin membawa.
Berserah, meyakini bisa.
Walaupun sejuta orang di luar sana mengatakan "Jangan!", "Sayang.."

Saturday, March 12, 2016

Hidup itu Singkat

"Aku wes nggedeke. Tenagaku tak nyohke ben anakku seneng. Aku ijik pengen ngopeni anakku. Kok disuwun Gusti. Anakkuuu....", tangis seorang ibu sesaat setelah upacara pemakaman putrinya.

Sepertinya tak akan ada satu orang pun ibu yang ingin ditinggalkan anaknya. Apalagi ditinggalkan untuk selama-lamanya dari alam dunia. Tapi apa daya, kita hanyalah manusia yang pasti akan menghadapNya entah diwaktu kapan. Melihat jerit tangis ibu tadi aku teringat akan kejadian dua tahun silam. Saat dimana aku kehilangan seorang teman, sahabat lebih tepatnya. Sama usianya denganku. Kami sedang 'getol-getol'nya mengembara. Semua hal baru kami voba, mulai dari berburu ilmu, objek wisata, kehidupan asmara, hingga kuliner nusantara. Seusiaku dimana mimpi-mimpi terukir ibdah dalam memori dan ambisi untuk mencapainya sedang meluap-luap. Seusiaku dimana banyak waktu dihabiskan bersama kawan sekedar melepas lelah ataupun bersendau gurau. Seusiaku ketika harapan-harapan orangtua menggantung tepat di depan mata kami. Pesan-pesan bapak ibu berlalu lalang di keduatelinga tentang masa depan, karir, sampai proyeksi kehidupan berumah tangga. Seolah perjalanan puluhan tahun ke depan ditentukan oleh keputusan-keputusan yang kami ambil saat ini. Seusiaku, usia 20an. Usia kritis dalam menjajal bajyak hal dan mengambil berbagai keputusan.
Namun, siapa sangka kehendak Tuhan tak demikian. Hari ini aku menyaksikan kenyataan yang tak diinginkan oleh setiap anak muda dimana pun, tak juga oleh orangtua dimana pun. Tapi ini nyata. Mereka meninggal di usia muda, usia 20an. Tuhan menghendaki akhir peziarahan mereka sampai disini, di usia 20an. Seolah mimpi-mimpi yang baru saja mereka rajut pupua sudah. Harapan orangtua atas mereka lenyap sudah. Seketika tawa canda hilang tersisa duka. Siapa yang menginginkannya? Tak ada. Seperti halnya seorang ibu yang menjerit dalam tangisnya tadi. Tangis yang ingin mengatakan ketidakrelaan hati untuk kehilangan putrinya. Tangis yang mungkin saja bentuk protes diri pada Yang Kuasa. Tangis sebagai rasa tak percaya putrinya telah tiada. Tangis dengan sedikit hatapan waktu dapat merubah kenyataan. Segala rasa bercampur rata, kehidupan seolah tak adil bagibya. Barangkali itu yang tersirat dalam benak pikirnya. Kadang kita lupa, lemahnya kita aebagai manusia. Bahkan kepada maut pun kita tak punya kuasa. Mudah menghibur debgan untaian kata 'sabar' 'tabah' dan 'istifar', tapi tentu tak demikian untuk yabg menjalaninya. Demikian juga kisah sahabatku yang tiada. Ibu bapanya tentu tak mudah untuk menerima.
Kisah tersebut memberikan gambaran nyata atas kuasaNya. Kalau Tuhan berkehendak, bisa hilang hari ini. Kalau Tuhan berkehendak, bisa terjadi hari ini. Teman-teman muda yang masih diberi kesempatan untuk berziarah di dunia ini mari bersama merenungkan peristiwa ini. Sudahkah kita mensyukuri atas setiap napas yang kita terima? Mensyukuri kesempatan untuk tetap berziarah untuk berpuluh tahun ke depan, waktu dimana tidak semua teman sebaya kita mebgalaminya. Kalau mereka tak lagi dapat meneruskan usaha, mimpi, dan cita mereka. Masihkah kita hanya berdiam diri menjadi manusia dengan hidup yang tak berarti?
Kisah singkat hidup teman-teman sebaya kita hendaknya menjadi refleksi untuk aemakin semangat mwmperjuangkan hidup. Anugerah luar biasa dariNya, ketika kita dipercaya untuk berziarah di dunia ini untuk waktu yang lebih lama. Tentu ada maksudNya yang baik. Mari kita yang masih berziarah semakin mampu berjuang, bersyukur, dan terus bersemangat dalam hidup. Karena bisa jadi hidup itu singkat.

Tuesday, March 8, 2016

Lain Ladang Lain Belalang

...dan lain lubuk lain ikannya.

Begitulah pepatah mengatakan. Artinya, setiap tempat memiliki karakternya masing-masing. Setiap tempat memiliki budaya yang berbeda satu dengan yang lain. Budaya yang tumbuh di keluarga kita tentu berbeda dengan keluarga teman, tetangga, bahkan kerabat. Begitu pula halnya yang terjadi di tempat kerja. Kebiasaan yang ada di tempat kerja saat ini tidak sama dengan tempat kerja yang lama, demikian juga akan berbeda apabila kita pindah tempat kerja nantinya. Perbedaan itu juga terasa dalam lingkup waktu dimana sikap kita waktu mengenyam bangku pendidikan (sekolah dan kuliah) tidak lagi sama dengan sikap kita saat sudah bekerja. Sedikit banyak tentu ada beda. Mulai dari perbedaan gaya bertutur kata, gaya berpenampilan, sampai pola pikir dalam menghadapi perkara. Semua tercipta bergantung pada kondisi kita berada. Dimana kapan bersama siapa tentu memengaruhi perbedaan itu.
Secara lebih dalam, pepatah tersebut mengajarkan kita tentang nilai kehidupan yang penting. Nilai itu adalah kemampuan untuk beradaptasi. Sadar ataupun tidak, bersedia atau pun keberatan, kita akan senantiasa menemukan kondisi seperti dikatakan oleh pepatah. Kondisi yang tak mampu disangkal dan dihindari. Oleh karena itu, kita perlu sikap untuk dapat menghadapi kondisi demikian, salah satunya dengan mengasah kemampuan untuk beradaptasi. Seseorang yang adaptif akan lebih mampu menghadapi situasi yang dinamis. Dimana pun ia berada senantiasa mampu menyesuaikan diri sesuai kondisi dan tempatnya. Manfaatnya pun dapat terasa, seperti mudah diterima oleh lingkungan, nyaman dalam beraktivitas, dan tentu terhindari dari kecemasan sosial. Orang-orang demikian cenderung mampu menghadapi situasi yang dinamis dan siap menghadapi perubahan sewaktu-waktu. Sayangnya tidak semua orang memiliki kemampuan adaptasi yang baik.
Bagi mereka yang kemampuan adaptasinya cenderung rendah, tentu kesulitan dalam menghadapi perubahan. Jangankan pindah tempat kerja, bahkan hanya pindah divisi saja sudah menjadi momok yang luar biasa. Kecenderungan mereka yang sulit beradaptasi terbelunggu oleh ketakutan-ketakutan dalam diri yang kadangkala tidak beralasan jelas.
Saat ini, dengan adanya globalisasi dan pesatnya perkembangan teknologi kita dituntut untuk semakin memiliki kemampuan untuk beradaptasi. Kemampuan untuk menerima hal baru, inovasi baru yang tentu bermanfaat untuk perkembangan diri maupun lingkungan. Rendahya kemampuan beradaptasi dapat mengakibatkan ketertinggalan. Pernah kita simak dalam media cetak, media elektronik, maupun situs-situs berita menyiarkan tentang industri, perusahan, institusi pendidikan, maupun industri rumah tangga yang mengalami penurunan kualitas bahkan sampai gulung tikar sebagai dampak terburuknya. Dari sekian banyak penyebab, berdasar pengamatan saya, kemampuan beradaptasi dan menciptakan inovasi menjadi salah satu faktor penentunya. Globalisasi seolah-olah menuntut setiap pihak memiliki kemampuan beradaptasi. Melihat fenomena-fenomena yang terjadi, penting  kita memiķi sikap adaptif.
Namun, sikap adaptif seharusnya diimbangi dengan kepemilikam karakter dan prinsip yang kuat. Dalam konteks ini, karakter dan prinsip mengacu pada tujuan baik yang dipupuk dalam diri. Mengapa? Kecenderungan kemampuan adaptif yang tinggi diikuti dengan fleksibilitas tinggi pula sehingga berpotensi untuk mengikuti arus kebanyakan. Celakanya apabila arus kebanyakan justru bertentangan dengan nilai-nilai moral. Oleh karena itu perlu seseorang yang adaptif memiliki karakter yang kuat. Biar bagaimana pun juga adaptasi yang baik ketika menyesuaikan diri pada lingkungan yang baik, untuk tujuan baik, memperbaiki diri, dengan harapan beroleh hasil yang lebih baik.
Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Pepatah sederhana yang telah diajarkan sejak bangku sekolah dasar. Pepatah singkat yang mengandung nilai kehidupan. Pepatah yang mengajarkan kita sebagai insan yang hidup dalam kedinamisan, perlu memiliki kemampuan untuk beradaptasi. Namun tak boleh diabaikan bahwa adaptif bukan berarti mengikuti apapun di tempat kita berada lantas mengikuti arus kemudian mengabaikan nilai dan tujuan hidup yang lebih baik. Adaptif sebaiknya menjadi sikap pendukung dalam mencapai tujuan hidup. Maka, mari kita sebagai insan muda harapan bangsa semakin mampu beradaptasi menghadapi situasi global saag ini. Tantangan besar bagi kita, termasuk saya, di usia krisis seperempat abad, dalam mengasah kemampuan beradaptasi. Kemampuan penting yang perlu dimiliki sebagai bekal menghadapi dinamisnya situasi global.

#opini seorang insan muda yang sedang belajar beradaptasi di tengah globalisasi#